Toraja selain terkenal dengan wisata alam, juga terkenal dengan wisata budaya. Salah satu yang paling ditunggu-tunggu setiap tahunnya adalah Tradisi Ma’nene.
Idris Prasetiawan, Rantepao
Ritual Ma’nene merupakan salah satu tradisi yang dilakukan suku Toraja. Tradisi ini berupa membersihkan jenazah yang sudah menjadi mumi dan mengganti bajunya dengan yang baru.
Ritual Ma’nene masih dijaga dan dilestarikan sejumlah masyarakat Toraja. Pada tradisi ini, satu rumpun keluarga melakukan pembersihan mumi leluhur sebagai garis keturunannya.
Tahun 2025 ini, salah satu lembang/desa di Toraja Utara yang menyelenggarakan tradisi Ma’nene ada di Lembang Parandangan, Kecamatan Buntu Pepasan.
Untuk menuju lokasi ritual ini, butuh perjuangan. Dari Kota Rantepao, masih harus menempuh jarak hingga 50 km ke arah barat dengan melewati jalan yang menanjak lagi terjal.
Wartawan Palopo Pos berkesempatan melihat langsung tradisi Ma’nene di Lembang Parandangan, Selasa 26 Agustus 2025, kemarin.
Kegiatan Ma’nene di Lembang Parandangan sudah berjalan sejak 18 Agustus 2025, lalu, dan puncaknya pada Kamis 28 Agustus 2025, besok, yang dirangkaikan dengan acara makan bersama sambil menyembelih kerbau sebagai ungkapan rasa syukur dilanjutkan dengan tradisi Sisemba.
Namun, untuk prosesi Ma’nene (membersihkan jasad leluhur sekaligus mengganti bajunya) dalam skala besar digelar, Selasa 26 Agustus 2025, kemarin. Sekira 20 jasad para leluhur dari rumpun Keluarga Nek’ Sangka Masarrang dikeluarkan dari dalam Patani (kuburan) untuk dilakukan penggantian baju sekaligus mengganti peti tempat jenazah disemayamkan.
Nek’ Sangka Masarrang merupakan jenazah leluhur tertua di silsilah keluarga Sangka Masarrang yang berusia lebih 100 tahun. Salah satunya Nek Sangka Masarrang ini. Terlihat jasadnya sebagian besar masih utuh. Nampak rambut di kepala, gigi, dan kulitnya masih utuh.
Meskipun peti jenasah tempat disemayamkan sudah lapuk.
Pihak keluarga juga memakaikan baju baru berwarna kuning kepada leluhurnya ini, sambil diangkat dan diarak berfoto bersama keluarga besar.
Selain itu, ada juga beberapa mumi yang sudah berusia puluhan tahun berada di kuburan batu dipindahkan ke Patani yang baru.
Ketua Panitia Tradisi Ma’nene di Lembang Parandangan, Titus Sangka yang diwawancara di sela-sela prosesi adat ini menjelaskan, ritual adat Ma’nene To Sarane ini dilakukan sekali dalam tiga dan lima tahun yang dimaknai sebagai bentuk cinta kasih dan melepas kerinduan kepada orang yang telah meninggal mendahului kita.
Dimana berkat mereka juga selama hidupnya juga memberikan rasa cinta kasihnya kepada kita semua, sehingga patutlah kami sebagai anak cucunya turut membalas cinta kasihnya (Tananai Bokorapo) lewat kegiatan Ma’nene ini yang dihadiri para rumpun keluarga, bahkan ada yang pergi merantau juga hadir menyaksikan.
Di tradisi Ma’nene, hal yang dilakukan, kata Titus, di antaranya memindahkan jenazah dari liang (kuburan batu) ke Patani (kuburan bangunan). Dimana kata Titus sekira 20 jasad dipindahkan ke kuburan yang baru.
Selanjutnya membuka peti jenazah untuk dibersihkan dan mengganti baju jenazah dengan yang baru (Makassai)
Sementara itu, salah satu keluarga Nek Sangka Masarrang yang ikut melakukan tradisi Ma’nene, Erna Latipa mengungkapkan rasa haru dan suka cita yang luar biasa karena bisa kembali melihat jasad dari leluhurnya.
“Kami merasa suka cita yang luar biasa, kerinduan terobati karena bisa melihat nenek kami yang sudah meninggal ratusan tahun dan puluhan tahun. Ini membangkitkan kembali kenangan indah masa lalu saat mereka masih hidup,” kata Erna sambil mengusap air matanya yang menetes.
Adapun rumpun keluarga yang turut hadir di tradisi Ma’nene Lembang Parandangan ada yang jauh dan dekat. Datang dari Kalimantan, Malaysia, Makassar, dan di sekitar Toraja Utara.
Saat kegiatan ritual Ma’nene di Lembang Parandangan, rumpun keluarga yang lain turut memanjatkan doa dan mengurbankan hewan ternak untuk dimakan bersama usai ritual.
Asal Usul Ritual Ma’nene
Tradisi ritual Ma’nene konon diturunkan dari kisah seorang pemburu Toraja bernama Pong Rumase. Ia adalah warga Lepong Bulan, wilayahnya meliputi Gowa, Makassar, Luwu, Bastem, Toraja, Mamasa dan sekitarnya sebelum Sulawesi dipetakan.
Pong Rumase meninggal dunia di dalam hutan saat melakukan perjalanan. Kemudian seorang pemuda asal Baruppu’ saudara Seregading (Sawerigading) yang hendak mengadu ayam menemukan tulang belulang Pong Rumase di tengah hutan.
Jadi Pong Rumase ditemukan jazadnya oleh saudara Saweregading di tengah hutan. Tapi karena kesaktiannya, jasad Pong Rumase bisa berbicara kepada pemuda itu. Dia meminta bantuan kepada pemuda tersebut agar jazadnya dipulangkan karena belum diupacarakan.
Mengabulkan permintaan Pong Rumase, pemuda tersebut langsung membuka pakaiannya dan mengikat jasad Pong Rumase dan membawanya ke tempat yang lebih layak. Setelah itu, pemuda tersebut mendapat keberuntungan selama hidupnya. Tanamannya tumbuh subur dan menjadi kaya raya.
Itulah asal muasal ritual Ma’nene. Selain itu, ritual ini mempunyai makna mencerminkan hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi sanak saudara yang terlebih dahulu meninggal dunia. Hubungan keluarga tak terputus walaupun telah dipisahkan. Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya. (*)
Gaming Center
Gaming center adalah sebuah tempat atau fasilitas yang menyediakan berbagai perangkat dan layanan untuk bermain video game, baik di PC, konsol, maupun mesin arcade. Gaming center ini bisa dikunjungi oleh siapa saja yang ingin bermain game secara individu atau bersama teman-teman. Beberapa gaming center juga sering digunakan sebagai lokasi turnamen game atau esports.